“Maaf” katanya. Bokepindo Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak henti-hentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi ‘Mr. “Maaf” katanya. Veggy’nya, dan menekannya dalam-dalam. Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan sampai 10 menit, lima belas menit, dan dia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo ?! Aku tersenyum saja. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, suara burung, bahkan sesekali auman harimau.Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Veggy’nya.Di atas batu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, dia menguakkan selangkangngannya, ‘Ms. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. dia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari tadi.Karena remang-remang aku




















