Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Bokep Live Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar aku memegang payudaranya Anisa yang montok itu, dia diam saja, bahkan seperti meningkat nafsu birahinya. Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, jika Tuhan mengijinkannya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, “sakit rasanya” ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Kebetulan aku berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Anisa merangkulku, “Dingin” katanya, aku peluk saja dia erat-erat.




















