Pak Hamid memenuhi janjinya, tidak mengeluarkan cairan mani dalam vaginaku. Bokeb Pak Hamid sambil berdiri di tepi meja mengusapkan benda panjang dan keras di klitorisku. “Dokter, apakah masih ada waktu untuk periksa saya ? “Dok, panoramanya sangat indah, pantainya juga bersih lho”. Aku lemas…..lemas sekali seperti tidak bertulang. Hanya ada dua bangku panjang dan meja kayu di tempat itu. Persasaan nikmat dan merinding menjalar dalam tubuhku. Di pelukanku ada si mungil Indri, buah hati kami berdua. Dekapan itu terasa hangat dan erat. Kami duduk berjauhan tanpa kata-kata. Aku kaget karena kehadirannya tanpa aku ketahui. Angin kencang menyebabkan tubuh kami basah dan dingin. Segera aku memeriksa pernafasan, tekanan darah dan lain-lainnya. Tanpa terasa kegiatan menyelam menjadi kegiatan rutin. Sekali lagi Pak Hamid mengajukan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulang kejadian itu.




















