Junior berdenyut-denyut. Bokep Mama Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Sial. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Ke bawah: Tidak. Aku pun segan memulai cerita. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Nafasnya tercium hidungku. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Tangannya halus. Ia menyenggol kepala juniorku. Aku pun segan memulai cerita. Kaki disandarkan di dinding. Aku tidak berpakaian kini. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga.




















