Membersihkan selangkanganku.“Di cukur?” Kak Edo bertanya sambil meremas jembutku. Saya sudah bahagia kalau saya… kalau saya diterima. Sex Bokep Jangan ngomong gitu… ” Aku lantas bangkit duduk di atas ranjang.Kak Edo masih berbaring di situ. Kak Edo tersenyum, mengangguk.“Tambah telor setengah matang?” Sempurna.Aku bergegas mempersiapkan semuanya. Selesai menyediakan mie di atas meja makan, aku terus ke kamar Kak Edo. Tdk ada lagi batasan. Jika aku tdk menjadikannya tuan, maka… maka hatiku akan sakit. “Saya tetap saja begini, tuan. Dalam-dalam. Jika aku tdk menjadikannya tuan, maka… maka hatiku akan sakit. Aku duduk di hadapan Kak Edo.“Naikin kakinya. Tapi, aku belum pernah meniduri perempuan. Tapi sekarang, kalau boleh saya ingin melayani Kakak…” Aku mengangkat wajah.Menatap wajah tampan itu, menjadi Arjunaku dalam hidup. “Duduk di atas meja.” Meja itu dari kayu mahoni, besar dan kuat.Jadi tanpa ragu aku membereskan apa yg ada, kecuali secangkir kopi dan semangkuk telur setengah matang itu.



