Setelah mengetahui jati dirinya aku menutup map itu dan memandangnya tajam. Tanpa ragu kedua tanganku langsung meremas susu Wulan dengan lembut. Bokeb Pandanganku yang nyalang itu, tidak membuat dia rikuh, malah dia tersenyum manja waktu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tangannya empuk dan hangat sekali, begitu juga dengan suaranya yang agak bernada bass itu. Aku berbisik agar ia tak takut karena aku akan hati hati dan kujamin dia tak merasa sakit. “Terserah !” Kembali Wulan berdiri, dia dengan tenang membuka blousenya serta kemudian melepas pengait behanya. Wulan hanya diam saja, merasakan empuknya susu Wulan aku tahu kalau dia sudah nggak gadis lagi. Setelah kuberikan uang dalam amplop itu, kuucapkan terimakasih dan kuminta Hesti menunggu kabar dari personalia. “Sering Pak, tetapi semuanya sudah putus karena tak cocok !” Aku tersenyum dan bertanya lagi, “Selama berpacaran, apa saja yang dilakukan oleh Hesti ?” “Maksud Bapak bagaimana ya ?” Hesti balas




















