Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Atau jangan-jangan dia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Bokep indo ” katanya. Begitu kebetulankah ini? Mengapa kancing baju cuma tujuh? Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Dia menurunkan sedekit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Come on lets go! Tetapi, aku harus berani. Fera menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku mengurungkan niatku. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual.Nafasnya tercium hidungku. Sudahlah. Aku menggelepar. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Eni. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Begitu kebetulankah ini? “ Besok saja Sayang..! Bau badannya tercium. Lho, salon kan tempat umum. Tetapi eh.., diam-diam dia mencuri pandang ke arah kejantananku. Atau jangan-jangan dia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ke bawah lagi: Tidak. Dia tidak melanjutkan kalimatnya.




















