Tanpa terasa eranganku semakin keras. “Terima kasih dik….”.Senyum Pak Hamid berkembang. Bokep Family memuncul denyutan orgasme. Bukankah aku tidak pernah menikmati rasa seperti ini dengan suamiku ? Auh….e.e.e.e.e.e.e…..haaah…haaah…haah. Pak Hamid sambil berdiri di tepi meja mengusapkan benda panjang dan keras di klitorisku. Aku lemas…..lemas sekali seperti tidak bertulang. Tangan berbulu lebat itu melingkar dalam dada dan perutku. Bibir berkumis lebat itu menjelajah ke bagian sensitip di leher dan belakang telingaku. Selama aku dinas di kepulauan, pemuda itu beberapa kali dibawa pulang menginap di rumah. Nafasku tersengal menahan setiap gerak kenikmatan. Ternyata isinya melebihi kewajaran tarip seorang dokter umum.Hari berlalu, ketika suatu malam saat aku akan mengunci kamar praktek, dihadapanku telah berdiri Pak Hamid.“Dokter, apakah masih ada waktu untuk periksa saya ? Ia sadar aku tidak mau dijamah lebih dari itu.




















