Bahkan suatu ketika aku menyamar menjadi seorang nenek tua (ya, dengan segala macam keriput di wajah, lengan, dan leher), aku diperlakukan seperti layaknya nenek-nenek tua, dituntun tangannya, didudukkan di depan, bahkan dicarikan taksi.Inilah awal mula rencanaku.***Aku tertegun membaca papan nama di sebuah sudut, sangat dekat dengan rumah yang baru saja aku beli. Bokeb Betapa tidak, si Ibu Dwi ini tipikal ibu-ibu setengah baya yang “bening” banget. sialnya, lampu bohlam kuning di kamarku tidak mendukung aksi penerawangan itu. Seperti mimpi saja rasanya ada bidadari montok di depan kamarku.“Mari-mari Non, masuk,” aku menyilakan,”maaf, ini, masih pake kain, abis tadi udah mau tidur.”
“Ga papa bi,” balas Tina sambil didik di dipanku. Sengaja kupegang lap pel dan ember untuk alasan bekerja. aku pegel banget nih abis jaga stand seharian. Akhirnya tak tahan juga aku pengen ngelepasin sperma yang sudah ada di topi baja penisku.




















