Kami duduk berhadapan, lalu ia segera
membuka kancing bajuku satu persatu hingga ia lepaskan dari tubuhku. “Bba.. Bokeb Lebih aneh lagi, setiap kami beradu pandangan, wanita itu
melempar senyum manis.Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya, tapi aku tetap
membalas dengan senyuman tanpa diperhatikan oleh si sopir teman makanku itu. Hanya saja ketika itu, aku bentrok dengan orang tuaku,
sedang saat ini aku bentrok dengan istri.Ceritanya, hanya persoalan sepele yaitu orang tuaku
menghendaki agar aku tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tapi aku
tetap ngotot untuk mendaftar pada salah satu perguruan tinggi di Makassar.Karena tidak didukung orang tua, aku terpaksa meminjam uang dari tetangga
sebesar Rp.10.000, buat ongkos mobil ke Makassar dan sisanya buat jajan. “Ti.. Yah.. Nampaknya ia
masih kimcil. Cairan hangat yang sejak tadi
mendesakku tiba-tiba muncrat ke atas dada dan payudara ibu majikanku. Dari dahi, pipi, hidung, mulut, leher dan perutku sampi ke pusarku,ia menyerangnya dengan mulutnya secara bertubi-tubi sehingga membuatku merasa
geli dan semakin




















