Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Bokepindo Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Aku mematung di tempatku berdiri. Aku serius soal ini. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. Gila. Akibatnya sebuah mobil berwarna putih yang hilang kendali menabrak anak laki-laki itu. Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. Dia menjual, bukan mengemis. “Terima kasih banyak, Pak. Ada sedikit rasa kagum melihat anak itu. Tapi seperti yang aku katakan, aku tetap bertahan pada tempatku berdiri. Semoga berkah,” ucap anak laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan badannya. Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi.




















