“Tapi enak ‘kan, ‘yang?”, bertanya, yang dijawab Eksanti dengan sebuah anggukan kecil. Dia tersenyum memandangku. Bokeb Di dalam kamar mandi, aku lama terdiam. saya mengangkat telepon itu. Blazer bekerja ia lepas, dan ditenteng bersama tugas kerjanya. Aku lalu merangkul tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Aku tubuh Eksanti, sehingga kini membelakangiku. mau keluaarr.. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. mau keluaarr.. Aku akhirnya berharap Eksanti bahwa sebenarnya aku hanya ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja. “Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?”, tanyanya penasaran.“Ya.. Aku merasakan seolah-olah layang-layang putus yang melayang terbang, tidak berbobot. Perlahan-lahan telapak tangan saya tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Eksanti tersenyum malu. Mas yang tanggung jawab, yaa..”, katanya menuntut penjelasanku lagi. Eksanti merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatannya. Tinggal bagaimana caranya aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan film.




















