“Ahh.. gimana sih.. Vidio Bokep Kamu tidur..? Kusentil ujungnya dengan telunjukku sambil tertawa kecil. Kulihat pandangan matanya yang sayu, melihat anggukan kecilnya. Cukup lama dan melelahkan untuk berpura-pura seperti itu. Kamu harus lebih pengertian.” Kubanting stir ke kiri, memasuki jalan menuju ke luar kota yang ditumbuhi pepohonan, jalan itu terlihat sepi dan gelap. Dapat kubayangkan hubungan persahabatan kompetitif antara Enni dan Nia, ahh.. Cukup lama dan melelahkan untuk berpura-pura seperti itu. “Jalan yuk.”
“Hah.. Raayy!” seru gadis itu tak kalah sengit. maaf..” Aku beringsut ke bangkuku sendiri, menutup mukaku dan menangis seperti seorang anak kecil. Gila apa ya? Kugenggam pergelangan tangannya, menuntunnya ke batang kemaluanku yang mulai tegang tak karuan.




















